Nama :
Rinawati
NIM :
1920.04.007
Prodi/Semester : MPI/2
Mata Kuliah : B.Arab Pendidikan
Dosen Pengampu : Muzhir Ihsan, M.Pd
Resume Mata Kuliah Bahasa Arab
Pendidikan
JUJUR
& MEMAAFKAN
1.
JUJUR
Kejujuran
adalah suatu sikap yang harus dimiliki dan menjadi pegangan bagi kita khususnya
umat islam dalam menjalani kehidupan. Bersikap atau berkata jujur adalah
mengatakan atau melakukan sesuatu dengan apa adanya sesuai fakta yang ada. Kata
jujur itu adalah kata sifat, yang mana seseorang akan melakukan sifat jujur
secara konsisten, jika terbiasa dan
menjadi sebuah kebiasaan akan menjadi karakter, begitu pula sebaliknya orang
akan sulit untuk jujur jika tidak terbiasa dan menjadi karakter dirinya
sendiri.
Jujur
adalah sikap yang sangat mulia dalam islam yang menjadi salah satu dari 4 sifat
wajib para rasul Allah SWT. Jujur ini dinamakan juga dengan siddiq dan disebut
sebagai induknya perilaku terpuji sebab membawa pada kebaikan yang satu dan
kebaikan lainnya.
Kejujuran
adalah sifat yang mahal dan sedikit orang yang Allah karuniakan untuk memiliki
sifat jujur, hal ini sudah tertulis dalam Al quran bahwa orang yang jujur akan
Allah tempatkan di tempat yang terbaik, sebab itulah tidak heran jika syetan
selalu menggoda manusia untuk menjauh dari kejujuran baik terhadap orang lain
bahkan untuk dirinya sendiri.
a. Jujur Kepada Allah
Jujur kepada
Allah itu kita melakukan perbuatan ibadah yang ikhlas kepada Allah tanpa ada
unsur riya’,semua perbuatan yang kita lakukan semata – mata hanya untuk Allah
untuk mencapai keridhoaannya, selanjutnya melakukan semua perintah Allah dan
menjauhi larangannya, dan berkata tanpa berdusta itu sudah termasuk sifat jujur
kepada Allah.
b. Jujur Kepada Diri Sendiri
Jujur
kepada diri sendiri yaitu menghilangkan segala bentuk penolakan yang membuat
kita jauh pada kebenaran mengenai diri kita, tidak membohongi diri
sendiri,tidak memaksakan diri kita untuk melakukan sesuatu. Sebagai contoh saat
kita melakukan ujian sekolah , jika kita tidak bisa menjawabnya lebih baik
menjawab dengan kemampuan diri kita sendiri dan tidak mencontek,.
Jujur
terhadap diri sendiri adalah mau menerima keadaan apapun yang terjadi meskipun hasilnya
terasa menyakitkan, akan tetapi walau bagaimanapun jika orang tersebut terbiasa
jujur dia akan mudah mengucapkannya apapun resiko yang akan dialaminya.
Cara kita
menanamkan sikap jujur terhadap diri sendiri yaitu dengan membiasakannya
dikehidupan kita sehari –hari agar tertanam menjadi sebuah karakter yang baik
dan tidak memaksakan kehendak yang jelas-jelas kita mengetahui bahwa diri tidak
mampu melakukannya, mengakui kesalahan yang telah diperbuat dan
mengevaluasinya, serta percaya pada kemampuan yang dimiliki oleh kita.
c. Jujur Kepada Orang Lain
Memberi kesaksian yang benar apabila diminta
pengadilan. Misalnya, jika memberi kabar berita sesuai dengan kenyataan ,
jangan diberi bumbu – bumbu penyedap
hanya untuk menyenangkan hati orang , jika kenyataannya si A tidak pandai , ya
kita katakan sejujurnya.
Bersikap jujur adalah termasuk perbuatan terpuji
yang bisa mengantarkan pada syurga, sebaliknya bersikap tidak jujur atau
berbohong adalah termasuk perbuatan tercela dan mengantarkan kepada neraka karena
berdosa. Sebagaimana dalam hadits Rasulullah Saw bersabda yang artinya :
“Selalulah
kamu jujur, karena sesungguhnya jujur itu mengantarkan kamu pada kebaikan dan
kebaikan itu sesungguhnya mengantarkan pada surga. Sedangkan dusta akan
mengantarkan pada keburukan dan dosa, dan sesungguhnya dosa itu akan
mengantarkan pada neraka”. [Hadits: Mutafaqun Alaih]
Kata bohong adalah kata negatif yang tidak boleh
dilakukan, namun ada pengecualian apabila kita dalam terdesak dan untuk
kebaikan diperbolehkan untuk berbohong hanya untk kebaikan, Allah swt sendiri yang
akan akan menjadikan kebohongan itu menjadi kebaikan. Kebohongan dalam Islam hakikatnya tetap tidak
diperbolehkan. Namun ternyata ada juga kebohongan yang diperbolehkan dengan
memenuhi syarat – syaratnya. Kebohongan yang diperbolehkan yaitu ada 3 macam :
1. pertama,
dalam kondisi al-harb (perang) misalnya dibutuhkan strategi yang kuat untuk
mengalahkan lawan, yang tidak mungkin disampaikan secara terang-terangan kepada
pihak lawan.
2. Kedua,
berbohong untuk mendamaikan dua pihak yang bertikai dengan cara yang baik pula.
Misalnya pihak ketiga (yang mendamaikan) memberikan hadiah kepada ke dua belah
pihak yang diatasnamakan pihak yang bertikai. Atau menyampaikan salam berupa
pujian kepada keduanya.
3. ketiga, yaitu bohongnya suami kepada istri
atau sebaliknya dengan tujuan untuk menampakkan rasa sayang berupa pujian atau
gombalan, atau berjanji yang tidak wajib.
2.
MAAF (Memaafkan)
Pemaaf adalah sifat yang sangat terpuji yang Allah
sifatkan kepada hamba-hamba-Nya yang bertaqwa. Karena beratnya amalan ini,
sehingga Allah Swt. Berfirman :(133)وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
(144)الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَالْغَيْظَوَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّـهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Dan bersegeralah
kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit
dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang
yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan
orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah
menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” ( Al – Imran
:133-134)
خُذِ الْعَفْوَ
وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
”Jadilah engkau
pemaaf dan serulah (manusia) mengerjakan yang ma’ruf (baik) dan berpalinglah
dari orang-orang yang bodoh.” (Al A’raf
: 199)
Ketika turun Surah Al A’raf : 199, Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wasallam pun bertanya kepada Malaikat Jibril, ”Apakah maksud ayat ini,
wahai Jibril?” Jibril menjawab, ”Sesungguhnya Allah menyuruhmu memaafkan orang
yang telah menzalimimu, dan bersilaturahim terhadap orang yang memutuskan
hubungan denganmu “
Namun, Sudah jamak dalam kehidupan kita, meminta maaf dan
memaafkan adalah pekerjaan yang maha berat bagi kita yang imannya masih naik
turun. Meski sudah menyadari kesalahan namun meminta maaf kepada mereka yang
telah didzalimi dan disakiti bukan perkara yang mudah. Ada semacam ego atau
gengsi yang mencegah seseorang untuk mengatakan, “Aku minta maaf, aku telah
bersalah.”
Agar
kita mudah memaafkan orang lain adalah dengan tidak selalu memikirkan
kesalahannya kepada kita, melainkan kita juga harus sesekali memikirkan
kebaikan yang pernah dia lakukan kepada kita walaupun hanya satu kali. Memaafkan
lahir dan batin memang sulit untuk di lakukan bagi seorang manusia normal yang sudah
tersakiti hatinya, oleh sebab itu Allah Swt mengistimewakan orang – orang yang memaafkan secara lahir dan batin dengan
derajat yg paling mulia di sisi Allah Swt. Karena memaafkan adalah perbuatan
yang berat untuk dilakukan.
Yang
perlu kita ingat bahwa meminta maaf tidak lantas membuat kita hina, dan
memaafkan seseorang yang telah menyakiti kita adalah perbuatan yang mulia.