Rabu, 22 April 2020

Jujur dan Memaafkan



Nama                           : Rinawati
NIM                            : 1920.04.007
Prodi/Semester            : MPI/2
Mata Kuliah                : B.Arab Pendidikan
Dosen Pengampu        : Muzhir Ihsan, M.Pd

Resume Mata Kuliah Bahasa Arab Pendidikan
JUJUR & MEMAAFKAN

1.      JUJUR
Kejujuran adalah suatu sikap yang harus dimiliki dan menjadi pegangan bagi kita khususnya umat islam dalam menjalani kehidupan. Bersikap atau berkata jujur adalah mengatakan atau melakukan sesuatu dengan apa adanya sesuai fakta yang ada. Kata jujur itu adalah kata sifat, yang mana seseorang akan melakukan sifat jujur secara konsisten, jika terbiasa  dan menjadi sebuah kebiasaan akan menjadi karakter, begitu pula sebaliknya orang akan sulit untuk jujur jika tidak terbiasa dan menjadi karakter dirinya sendiri.
Jujur adalah sikap yang sangat mulia dalam islam yang menjadi salah satu dari 4 sifat wajib para rasul Allah SWT. Jujur ini dinamakan juga dengan siddiq dan disebut sebagai induknya perilaku terpuji sebab membawa pada kebaikan yang satu dan kebaikan lainnya.
Kejujuran adalah sifat yang mahal dan sedikit orang yang Allah karuniakan untuk memiliki sifat jujur, hal ini sudah tertulis dalam Al quran bahwa orang yang jujur akan Allah tempatkan di tempat yang terbaik, sebab itulah tidak heran jika syetan selalu menggoda manusia untuk menjauh dari kejujuran baik terhadap orang lain bahkan untuk dirinya sendiri.
a.   Jujur Kepada Allah
Jujur kepada Allah itu kita melakukan perbuatan ibadah yang ikhlas kepada Allah tanpa ada unsur riya’,semua perbuatan yang kita lakukan semata – mata hanya untuk Allah untuk mencapai keridhoaannya, selanjutnya melakukan semua perintah Allah dan menjauhi larangannya, dan berkata tanpa berdusta itu sudah termasuk sifat jujur kepada Allah. 
b. Jujur Kepada Diri Sendiri
Jujur kepada diri sendiri yaitu menghilangkan segala bentuk penolakan yang membuat kita jauh pada kebenaran mengenai diri kita, tidak membohongi diri sendiri,tidak memaksakan diri kita untuk melakukan sesuatu. Sebagai contoh saat kita melakukan ujian sekolah , jika kita tidak bisa menjawabnya lebih baik menjawab dengan kemampuan diri kita sendiri dan tidak mencontek,.
Jujur terhadap diri sendiri adalah mau menerima keadaan apapun yang terjadi meskipun hasilnya terasa menyakitkan, akan tetapi walau bagaimanapun jika orang tersebut terbiasa jujur dia akan mudah mengucapkannya apapun resiko yang akan dialaminya.
Cara kita menanamkan sikap jujur terhadap diri sendiri yaitu dengan membiasakannya dikehidupan kita sehari –hari agar tertanam menjadi sebuah karakter yang baik dan tidak memaksakan kehendak yang jelas-jelas kita mengetahui bahwa diri tidak mampu melakukannya, mengakui kesalahan yang telah diperbuat dan mengevaluasinya, serta percaya pada kemampuan yang dimiliki oleh kita. 
c. Jujur Kepada Orang Lain
Memberi kesaksian yang benar apabila diminta pengadilan. Misalnya, jika memberi kabar berita sesuai dengan kenyataan , jangan diberi bumbu – bumbu  penyedap hanya untuk menyenangkan hati orang , jika kenyataannya si A tidak pandai , ya kita katakan sejujurnya.
Bersikap jujur adalah termasuk perbuatan terpuji yang bisa mengantarkan pada syurga, sebaliknya bersikap tidak jujur atau berbohong adalah termasuk perbuatan tercela dan mengantarkan kepada neraka karena berdosa. Sebagaimana dalam hadits Rasulullah Saw bersabda yang artinya :
“Selalulah kamu jujur, karena sesungguhnya jujur itu mengantarkan kamu pada kebaikan dan kebaikan itu sesungguhnya mengantarkan pada surga. Sedangkan dusta akan mengantarkan pada keburukan dan dosa, dan sesungguhnya dosa itu akan mengantarkan pada neraka”. [Hadits: Mutafaqun Alaih]

Kata bohong adalah kata negatif yang tidak boleh dilakukan, namun ada pengecualian apabila kita dalam terdesak dan untuk kebaikan diperbolehkan untuk berbohong hanya untk kebaikan, Allah swt sendiri yang akan akan menjadikan kebohongan itu menjadi kebaikan. Kebohongan dalam Islam hakikatnya tetap tidak diperbolehkan. Namun ternyata ada juga kebohongan yang diperbolehkan dengan memenuhi syarat – syaratnya. Kebohongan yang diperbolehkan yaitu ada 3 macam :
1. pertama, dalam kondisi al-harb (perang) misalnya dibutuhkan strategi yang kuat untuk mengalahkan lawan, yang tidak mungkin disampaikan secara terang-terangan kepada pihak lawan.
2. Kedua, berbohong untuk mendamaikan dua pihak yang bertikai dengan cara yang baik pula. Misalnya pihak ketiga (yang mendamaikan) memberikan hadiah kepada ke dua belah pihak yang diatasnamakan pihak yang bertikai. Atau menyampaikan salam berupa pujian kepada keduanya.
3. ketiga, yaitu bohongnya suami kepada istri atau sebaliknya dengan tujuan untuk menampakkan rasa sayang berupa pujian atau gombalan, atau berjanji yang tidak wajib.

2.      MAAF (Memaafkan)
Pemaaf adalah sifat yang sangat terpuji yang Allah sifatkan kepada hamba-hamba-Nya yang bertaqwa. Karena beratnya amalan ini, sehingga Allah Swt. Berfirman :




(133)وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا  السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ 
(144)الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَالْغَيْظَوَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ   ۗ وَاللَّـهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ  
 “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” ( Al – Imran :133-134)

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
”Jadilah engkau pemaaf dan serulah (manusia) mengerjakan yang ma’ruf (baik) dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (Al A’raf : 199)
Ketika turun Surah Al A’raf : 199, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun bertanya kepada Malaikat Jibril, ”Apakah maksud ayat ini, wahai Jibril?” Jibril menjawab, ”Sesungguhnya Allah menyuruhmu memaafkan orang yang telah menzalimimu, dan bersilaturahim terhadap orang yang memutuskan hubungan denganmu “

Namun, Sudah jamak dalam kehidupan kita, meminta maaf dan memaafkan adalah pekerjaan yang maha berat bagi kita yang imannya masih naik turun. Meski sudah menyadari kesalahan namun meminta maaf kepada mereka yang telah didzalimi dan disakiti bukan perkara yang mudah. Ada semacam ego atau gengsi yang mencegah seseorang untuk mengatakan, “Aku minta maaf, aku telah bersalah.”

Agar kita mudah memaafkan orang lain adalah dengan tidak selalu memikirkan kesalahannya kepada kita, melainkan kita juga harus sesekali memikirkan kebaikan yang pernah dia lakukan kepada kita walaupun hanya satu kali. Memaafkan lahir dan batin memang sulit untuk di lakukan bagi seorang manusia normal yang sudah tersakiti hatinya, oleh sebab itu Allah Swt mengistimewakan orang – orang  yang memaafkan secara lahir dan batin dengan derajat yg paling mulia di sisi Allah Swt. Karena memaafkan adalah perbuatan yang berat untuk dilakukan.
Yang perlu kita ingat bahwa meminta maaf tidak lantas membuat kita hina, dan memaafkan seseorang yang telah menyakiti kita adalah perbuatan yang mulia.